Alasan Mengapa Penerapan Perilaku Hidup Sehat dan Bersih Berlebihan Justru Berbahaya

Our Score
Apakah artikel ini memuaskan?
[Total: 0 Average: 0]

Jika Anda merasa bahwa Anda dapat meningkatkan kesehatan keluarga dengan melarang anak Anda bermain hal yang kotor atau menjaga kebersihan rumah sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat berlebihan itu baik,  Anda bisa saja salah! Pola hidup bersih ekstrem ini diduga sebagai pemicu kasus-kasus penyakit alergi dan autoimun yang banyak berkembang di Negara maju seperti Amerika Serikat dan beberapa negara maju lain. Nah, jadi apa yang sebenarnya membuat pola hidup bersih dan sehat ini  malah membuat Anda dan keluarga Anda malah rentan terhadap penyakit? 

Mengenal Germless Theory dan Hygiene Hipotesis, Alasan Mengapa Penerapan Perilaku Hidup Sehat dan Bersih Berlebihan Justru Berbahaya

 Perilaku hidup bersih dan sehat jika ditinjau melalui aspek higiene dan sanitasi tidak melulu memberikan dampak positif bagi keluarga,terutama putra-putri Anda. Pola hidup hiegienis ekstrim ini seringkali disebut sebagai perilaku yang terpengaruh budaya barat atau westernized lifestyle ternyata bisa membuat sistem imun tubuh manusia ekstra sensitif dan timbullah penyakit alergi bahkan jika dalam tahap yang parah, penyakit autoimun.. Karena begini, Sebenarnya, bakteri dan mikroorganisme lain lingkungan sekitar kita juga membantu melatih sistem imun tubuh untuk menentukan apakah paparan  molekul asing tersebut memiliki dampak negatif pada tubuh atau tidak. Nah, teori yang menjelaskan mengapa perilaku hidup sehat dan higienis berlebihan justru dapat membahayakan hidup Anda karena dapat memicu alergi bahkan autoimun ini disebut sebagai germless theory. Teori ini sebelumnya dikenal sebagai Hyegiene hypothesis. Secara sederhana, germless theory ini menjelaskan sebab terjadinya penyakit alergi dan autoimun pada masyarakat dunia pertama karena minimnya mereka terekspos pada partikel pemicu penyakit seperti penyebab asma, alergi makanan atau alergi pada debu dan serbuk sari (polen). Pada kasus penyakit asma contohnya,  Dari data yang dipaparkan oleh Masoli et. al (2011) dalam Graham-Rowe (2011), ternyata negara barat seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Britania Raya memiliki proporsi penderita asma lebih tinggi (> 10% populasi total) dibanding negara timur seperti Cina, Indonesia dan Rusia (bagian Siberia) [±2%].   Dengan pemaparan diatas, Anda mungkin akan bertanya-tanya, mengapa pola hidup bersih dan higienis berlebihan justru berpotensi menimbulkan penyakit? Section artikel berikut akan menjelaskan secara detail dan efektif alasan tersebut! 

Alergi : Genetik+Lingkungan= Fenotip, Bagaimana Sistem Imun Menghasilkan Reaksi Alergi

Interaksi Gen Penyandi Imunitas dan Faktor Lingkungan

Seluruh sistem biologis dalam makhluk hidup diatur oleh gen-gen yang menyandikan protein, baik sebagai protein fungsional seperti enzim atau reseptor dan sebagai protein struktural. Begitu pula sistem imunitas tubuh manusia, ada berbagai gen penyandi berbagai jenis protein yang terlibat dalam suatu reaksi imun, baik sebagai reseptor atau efektor. Semua gen yang menyandikan protein dipengaruhi oleh faktor lingkungan, begitu pula gen-gen yang terlibat dalam sistem imun tubuh. Maka, ekspresi gen yang terlibat dalam sistem imun juga dipengaruhi berbagai faktor lingkungan. Gen-gen yang terlibat dalam respon imun dalam tubuh antara lain gen CD14, TLR2, TLR4, TLR6 atau TLR10. Gen yang menyandikan beberapa protein reseptor seperti NOD1 and NOD 2. Kedua kelompok gen tersebut adalah penyandi dari komponen penting dari sistem imun tubuh. Ilmuwan menyatakan bahwa hubungan antara faktor lingkungan dan polimorfisme gen respon imun atau reseptor sebagai akibat dari paparan faktor tersebut-lah yang menarik, karena hubungan tersebut berimplikasi dengan kontrol infeksi.  Singkatnya begini, Hubungan antara faktor lingkungan (dalam konteks imunitas adalah benda asing) dan gen pengatur sistem imunitas akan mempengaruhi jumlah variasi fenotip yang diekspresikan, contohnya adalah pada kasus tikus yang memiliki beberapa variasi fenotip CD14, yang berperan dalam pengenalan lipopolisakarida yang biasanya ditemukan pada dinding sel bakteri gram negatif (LPS/endotoksin). Sumber: (Okada et al. 2010) 

Menjelaskan Germless Theory Dengan Variasi Fenotip yang Dipicu Faktor Lingkungan

 

Daftar Pustaka dan Bacaan Lanjut

Graham-Rowe, Duncan. 2011. “When Allergies Go West.” Nature Outlooks: 52–54.
Okada, H, C Kuhn, H Feillet, and JF Bach. 2010. “The ‘ Hygiene Hypothesis ’ for Autoimmune and Allergic Diseases : An Update.” Clinical and Experimental Immunology 160: 1–9.

Leave a Comment