Mengenal Teknologi Bioprinter

Our Score
Apakah artikel ini memuaskan?
[Total: 0 Average: 0]

Mengenal Teknologi Bioprinter

Teknologi bioprinter atau 3D Bioprinter adalah proses pencetakan pola sel terkontrol dengan mengadaptasi teknologi pencetakan 3 dimensi. Pada proses ini, fungsi biologis dan viabilitas sel tetap dipertahankan selama proses pencetakan sel tersebut.  Teknologi ini pertama kali dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2003 dan diresmikan perilisannya pada tahun 2006.

Teknologi bioprinter menghasilkan jaringan hidup fungsional dengan menyusun lapisan demi lapisan jaringan sel hidup. Meski saat ini mesin bioprinter hanya dikembangkan untuk eksperimen saja, namun dimasa depan, teknologi bioprinter diharapkan mampu berkembang menjadi alat medis revolusioner.

teknologi bioprinter dimasa depan

Cara Kerja Bioprinter

Bioprinter bekerja dengan berbagai konfigurasi. Meski pada dasarnya, seluruh bioprinter mengeluarkan sel dari pin bioprinter yang bergerak kearah berlawanan (kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah) untuk memposisikan sel pada tempat yang sesuai.Setelah beberapa saat inkubasi, lapisan tersebut akan membentuk jaringan baru berupa lapisan yang sangat tipis.

Untuk menjaga agar sel yang dicetak tetap hidup dan mampu melaksanakan fungsi biologisnya, sel tersebut dicampur dengan gel yang memberikan nutrisi sekaligus perlindungan bagi sel-sel yang akan dicetak. Menurut Atala dan Murphy (2014) dalam artikel mereka yang berjudul 3D bioprinting of tissues and organs, Proses pendekatan pengembangan bioprinter sendiri terdiri dari tiga proses yakni biomimikri, autonomous self-assembly serta pengembangan jaringan sederhana.

Biomimikri Pada Teknologi Bioprinter

Proses biomimikri yang diterapkan pada bioteknologi ini lebih pada menemukan metode dan formulasi yang optimum untuk mensimulasikan keadaan fisiologis dan kebutuhan yang diperlukan oleh sekumpulan sel untuk membangun jaringan. Seperti kebutuhan nutrisi, hormon-hormon pengontrol pertumbuhan, sistem imunitas dan sistem pengelolaan limbah metabolisme sel. Dengan begitu, jaringan makhluk hidup yang dikembangkan menggunakan mesin  tersebut dapat hidup dan membentuk pola yang diinginkan.

Autonomous self-assembly 

Inti dari proses ini adalah membuat lingkungan yang sesuai untuk mengarahkan sel-sel embrionik yang dicetak agar menempati suatu lokasi dan menjalankan fungsi fisiologis sesuai yang diinginkan oleh pengguna teknologi bioprinter ini. Proses autonomous self-assembly ini meliputi persinyalan atau komunikasi antar sel, dan pengorganisasian sel-sel tersebut menjadi jaringan yang diinginkan.

Pembuatan Bulding Block Berupa Jaringan Sederhana

Setelah sel-sel diarahkan untuk mengelompokkan diri dan mengorganisasikan mereka menjadi suatu jaringan. Tugas selanjutnya adalah untuk membangun bulding block bagi organ berupa sistem jaringan sederhana. Dalam konteks ini, dapat diambil unit ginjal terkecil, nefron sebagai contoh. Pada proses pembuatan ginjal, sebelum organ yang dibuat utuh, maka nefron-lah yang akan dicetak terlebih dahulu.Proses Pengembangan Teknologi Bioprinting

Proses Pengembangan Teknologi Bioprinting

Sumber Pustaka

http://www.nature.com/nbt/journal/v32/n8/full/nbt.2958.html

http://en.wikipedia.org/wiki/3D_bioprinting

Leave a Comment