Tebu Transgenik UNEJ: Dari Kultur Sel Menjadi Aset Negara

Our Score
Apakah artikel ini memuaskan?
[Total: 0 Average: 0]

Pendahuluan: Perkenalan Metode Kultur Jaringan Tebu

Tebu transgenik Universitas Jember

Perbanyakan tanaman tebu umumnya dilakukan secara vegetatif, yakni menanam ruas batang tebu yang nantinya akan tumbuh menjadi individu tebu lengkap. Sejalan dengan berkembangan teknologi, tebu kini dapat perbanyak dengan menggunakan teknik in vitro. Perkembangbiakan tebu dengan metode ini menggunakan bagian embrionik dari tanaman tebu yakni tunas sebagai sumber plasma nutfah. Metode ini sering dikenal sebagai metode kultur jaringan. Pada sebuah artikel di http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/, teknik kultur jaringan didefinisikan sebagai teknik perbanyakan dengan cara mengisolasi bagian dari tanaman tebu berupa jaringan somatis (daun) atau meristematis (tunas apikal dan tunas aksilar) dalam media kultur yang aseptik pada rungan yang terkontrol, sehingga dapat tumbuh dan berkembang, berorganogenesis dan dapat beregenerasi menjadi tanaman. Sedangkan proses aklimatisasi merupakan proses penyesuaian pertumbuhan  tanaman hasil perbanyakan melalui kultur jaringan pada lingkungan luar (ex-vitro). Metode kultur jaringan ini pula yang digunakan oleh tim peneliti Universitas Jember untuk memperbanyak serta menganalisis tebu transgenik yang kini telah mendunia tersebut. Berita tentang tebu transgenik karya tim Peneliti Universitas Jember Dapat dibaca disini

 Proses Pembiakan Kultur Jaringan Tebu Transgenik
Gambar 1. Proses Pembiakan Kultur Jaringan Tebu Transgenik

Keunggulan Teknik Kultur Jaringan Tebu

Keunggulan perbanyakan tanaman tebu dengan metode kultur jaringan antara lain:

  1. Anakan memiliki sifat identik dengan indukan
  2. Tidak butuh tempat luas
  3. Menghasilkan bibit tebu dengan jumlah besar dalam waktu singkat
  4. Mutu dan kesehatan bibit tebu lebih terjamin
  5. Pertumbuhan bibit lebih cepat

Sumber: Dephut, Diakses 2014

Prosedur Perbanyakan Tebu Dengan Kultur Jaringan

  • Pembuatan media: Media tanam yang dibuat adalah media MS I dan MS II. Perbedaan utama antara MS I dan II adalah :
    • MS I  → Sucrosa; 2,4 D; digunakan untuk media pembentukan kallus; ± 15 cc.
    • MS II → Gula pasir; IAA; digunakan untuk media differensiasi planlets; ± 25 cc.
  •  Pengambilan tunas apikal (pucukan) Dari pucukan tebu, diambil ruas paling bawah
    Tebu transgenik universitas jember
  • Pengelupasan tunas apikal: Pengelupasan pucukan bertujuan untuk mempermudah pengambilan dan pemotongan tunas apikal sebagai sumber ekplants. ± 20 cm dari ruas terakhir.
  • Pemotongan ekplant: Pucuk tebu yang berumur 5 bulan dipotong-potong diatas titik tumbuhnya dengan ukuran 0,5 cm.
  • Penanaman pucukan (ekplant): Penanaman pucuk tebu yang telah dipotong-potong ke dalam media MS I. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan kallus. Kallus adalah sel yang tumbuh dari irisan pucuk (ekplant). Kallus yang didapat merupakan bahan tanam pada tahap differensiasi. Waktu untuk menumbuhkan kallus berkisar 1,5 – 2 bulan.
  • Penanaman kallus (differensiasi): Tujuannya adalah untuk mendapatkan individu tanaman dari hasil penanaman kallus. Kallus yang didapat dikeluarkan dari tabung MS I dan dipilih yang baik dan segar kemudian dipotong kecil-kecil selanjutnya ditanam pada media MS II. Pada media ini akan diperoleh individu – 2 tanaman lengkap dengan akarnya. Waktu yang diperlukan pada MS II berkisar 3 – 4 bulan.
  • Aklimatisasi I: Yang dimaksud aklimatisasi ialah penanaman individu tanaman yang diperoleh dari MS II ke media tanah (pasir : tanah : BO = 1 : 1 : 1) yang sudah disterilkan dan ditempatkan di green house. Tujuan dari aklimatisasi adalah untuk mengadaptasikan tanaman dari lingkungan steril ke lingkungan alam bebas. Waktu untuk memberi waktu tanaman agar beradaptasu sekitar 1 – 2 bulan. Sebelum diaklimatisasi tanaman dari MS II dipotong daun dan akar, direndam dalam larutan yetin (antiseptik). Setelah ditanam, kemudian disiram dan ditutup, setelah 5 hari tutup dibuka. Perawatan di bedengan antara lain Penyiraman → sesuai dengan kondisi tanah setiap harinya. Pemupukan I → Za dengan dosis 1 sdm untuk satu jalur (2 bedengan) pada umur 7 dan seterusnya. Pendangiran, umur 14 hst. Pemupukan II → Za dengan dosis 2 sdm untuk 1 jalur (2 bedengan) pada umur 14 hst.  Pupuk daun 15 cc / 1 l air. Pada umur 21 hst.
  • Penanaman di polibag (aklimatisasi II ): Dimaksudkan untuk memisahkan masing-masing individu tanaman ke polibag yang telah diisi dengan tanah yang sudah dicampur dengan pupuk organik, waktu untuk menumbuhkan tanaman sampai dengan siap ditanam di kebun berkisar 2 – 3 bulan.
    1 leng (8m) diperlukan 27 polibag dengan jarak tanam 30 cm.
    1 Ha = 950 leng
    Maka 1 Ha diperlukan 27 x 950 = 25.650 polibag

tebu transgenik universitas jember

 

1 thought on “Tebu Transgenik UNEJ: Dari Kultur Sel Menjadi Aset Negara”

Leave a Comment